Lala mengusap air mata yang keluar dengan tangannya."Lynx, kamu terlalu polos dan jujur. Jika kamu menceritakan rahasiamu secara terang-terangan seperti ini, akan mencelakakan dirimu sendiri."

Chiko menambahkan."Lala benar, bukan maksud dia untuk menertawakanmu. Tapi di dunia kami, orang-orang yang memiliki kekuatan selalu berusaha menyembunyikan rahasia mereka, karena mereka takut di manfaatkan atau di jadikan penelitian. Apalagi kekuatan yang kamu sebutkan, sangatlah luar biasa. Tidak pernah ada yang memiliki kekuatan seperti itu."

Lala kembali menambahkan."Kekuatanmu bisa menjadi anugrah dan bisa juga menjadi malapetaka untukmu. Kekuatanmu bisa menjadi rebutan banyak orang. Dan orang-orang akan mengejarmu untuk mendapatkan rahasiamu."

"Kalian benar. Aku akan lebih berhati-hati lain kali. Aku menceritakan semuanya karena aku merasa percaya dengan kalian." Kata Lynx sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Setelah beberapa saat beristirahat, Mochi berdiri dan melangkah ke tengah area terbuka. “Baik, Lynx. Mari kita mulai. Tapi ini hanya latihan. Jangan menyerang terlalu keras.”

Lynx mengangguk. “Aku mengerti. Aku juga tidak ingin melukaimu.”

Lala terkekeh. “Kakekku mungkin terlihat tua, tapi dia tidak akan kalah mudah.”

Lynx tersenyum tipis, kemudian bersiap. Mochi juga mengambil posisi bertahan.

Lynx melancarkan serangan pertama, sebuah pukulan lurus ke arah dada Mochi. Namun, Mochi dengan mudah menghindar, kemudian menyentuh lengan Lynx dengan ringan, membuatnya kehilangan keseimbangan.

“Gerakanmu terlalu kaku,” komentar Mochi.

Lynx mencoba lagi, kali ini dengan tendangan cepat ke arah kaki Mochi. Namun, Mochi memutar tubuhnya, menghindari serangan itu, dan menyentuh bahu Lynx dengan pukulan ringan.

“Kau terlalu mengandalkan kecepatanmu, tapi lupa menjaga keseimbangan,” kata Mochi.

Lynx mulai merasa frustasi. Dia meningkatkan kecepatannya, melancarkan serangkaian pukulan dan tendangan. Namun, Mochi, meski terlihat lambat, berhasil menghindari semua serangan itu dengan gerakan yang efisien.

“Kakek, kamu luar biasa!” seru Lala sambil tertawa kecil.

Lynx berhenti sejenak, mengambil napas. “Aku tidak bisa menyentuhmu sama sekali.”

“Itu karena kau bergerak terlalu banyak,” kata Mochi. “Lihatlah lawanmu, perhatikan pola mereka. Jangan hanya menyerang secara membabi buta. Kamu cepat, tapi aku bisa mengetahui arah gerakanmu.”

Lynx mengangguk, kemudian mencoba menerapkan saran itu. Kali ini, dia memperlambat serangannya, mencoba membaca gerakan Mochi. Namun, setiap kali dia menyerang, Mochi masih berhasil menghindar dengan mudah.

Setelah beberapa menit, Mochi akhirnya menghentikan latihan. “Cukup untuk sekarang. Kau masih punya banyak hal untuk dipelajari, tapi kau punya potensi besar.”

Lynx mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih, Mochi. Aku akan terus belajar.”

Lala menepuk bahu Lynx. “Kamu hebat, Lynx. Dan dengan kakekku mengajarimu, kamu akan menjadi tak terkalahkan.”

Lynx tertawa kecil. “Aku harap begitu. Aku benar-benar berterima kasih kepada kalian.”

Latihan itu menjadi awal persahabatan yang lebih erat antara Lynx, Lala, dan Mochi, di tengah perjalanan mereka menuju bahaya yang belum mereka ketahui.

Perjalanan mereka terus berlanjut melewati hutan yang semakin rapat. Lala dan Mochi berbincang ringan di sepanjang jalan, sementara Lynx, yang masih merenungi latihan sebelumnya, berjalan beberapa langkah di depan.

“Lynx, tunggu sebentar,” panggil Mochi sambil menunjuk ke sebuah semak.

Lynx menghentikan langkahnya dan menoleh. “Ada apa, Mochi?”

Mochi mendekat, lalu menunjuk ke arah sarang ayam hutan yang tersembunyi di balik dedaunan lebat. Sarang itu berisi beberapa telur kecil berwarna krem dengan bercak-bercak coklat.

“Lihat itu,” kata Mochi.

Lala melompat kegirangan. “Ayam hutan! Telurnya pasti enak kalau dimakan.”

Mochi mengangguk sambil tersenyum, tetapi ada kilatan licik di matanya yang hanya dia sendiri yang tahu. “Lynx, bisa ambilkan telur-telur itu untuk kami?”

Lynx tanpa ragu mengangguk. “Tentu saja. Kalau kalian lapar, kita bisa masak telur ini.”

Dengan gesit, Lynx berjongkok dan perlahan mengambil telur-telur itu satu per satu, memastikan tidak ada yang pecah. Gerakannya begitu tenang dan hati-hati, seperti pemburu berpengalaman. Ketika Lynx kembali membawa lima butir telur, Mochi menyambutnya dengan anggukan puas.

“Kamu bisa bersikap sangat lembut, ternyata,” ujar Mochi sambil tertawa kecil.

Lynx mengerutkan dahi, bingung. “Tentu saja. Kalau tidak hati-hati, telur-telur ini akan pecah.”

“Bagus,” kata Mochi sambil menyimpan tiga telur di kantong kainnya. Namun, dia memegang dua butir telur di tangannya, lalu melangkah mundur sedikit.

“Sekarang, mari kita gunakan telur-telur ini untuk latihan,” lanjut Mochi dengan nada serius.

“Latihan?” tanya Lynx, bingung.

Mochi tiba-tiba melempar salah satu telur ke arah Lynx. Refleks, Lynx menangkap telur itu, tetapi bunyi pecah terdengar. Cairan kuning dan putih telur menetes di tangannya.

“Aku ingin melatih reflek dan kekuatanmu,” jawab Mochi. “Ini tentang kontrol tenagamu. Kalau kau bisa menangkap telur tanpa memecahkannya, berarti kau bisa belajar menggunakan kekuatanmu dengan lebih tepat.”

"Kamu bisa lihat, ketika mengambil telur, kamu dapat mengambilnya dengan aman tanpa memecahkannya. Tapi ketika reflek menangkap telur ini, alam bawah sadarmu mengeluarkan kekuatan terlalu besar secara otomatis sehingga memecahkan telur ini." Kata Mochi melanjutkan.

"Kakek benar, setiap kali aku mengerahkan kekuatanku untuk membantu mengerjakan pekerjaan berat seperti mengangkat batang pohon, aku bisa mengangkatnya dengan mudah, namun adakalanya yang kulakukan terlalu berlebihan, seperti tanpa sengaja membuat batang yang kubawa terlempar keras saat akan ku letakkan.

Lala tertawa kecil. “Lynx, kau terlalu kuat!”

Mochi mengangguk. “Itulah masalahmu. Kau punya kekuatan besar, tapi kau tidak bisa mengendalikannya. Kita akan melatihmu dengan sisa telur ini.”

Mochi mengambil satu lagi telur dari kantongnya dan melemparkannya ke arah Lynx. Kali ini Lynx berusaha menangkapnya dengan lebih hati-hati, tanpa mengerahkan kekuatan dan berhasil.

"Bagus, sekarang alirkan kekuatanmu ke seluruh tubuhmu dan tangkap telur ini lagi." Mochi melemparkan satu lagi telur, namun kali ini, telur itu pecah di tangannya.

“Kau harus belajar mengatur dan membagi tenaga. Meski kekuatanmu meningkat, kamu harus bisa mengendalikan di bagian mana yang harus mendapatkan tenaga lebih banyak dan mana yang tidak, ini akan membuat kamu dapat memfokuskan kekuatan dengan lebih baik” kata Mochi.

“Ini lebih sulit dari yang aku kira,” gumam Lynx, sedikit frustasi.

“Tenang saja,” kata Mochi dengan nada sabar. “Latihan ini tidak mudah, tapi kau akan belajar. Sekarang coba lagi.”

Mochi terus melemparkan telur-telur itu satu per satu, tetapi setiap kali Lynx menangkapnya, telur itu selalu pecah. Hingga akhirnya, semua telur habis.

“Kita sudah kehabisan telur,” kata Lala sambil menahan tawa. “Kurasa latihan ini tidak akan selesai hari ini.”

Mochi mengangguk. “Tidak apa-apa. Kita simpan latihan ini untuk lain waktu. Sekarang kita harus melanjutkan perjalanan. Kita masih dikejar waktu.”

"Sangat di sayangkan, jadi gagal memakan telur itu," kata Lala sambil tertawa ringan.

Beberapa jam kemudian, mereka berhenti di sebuah dataran kecil untuk beristirahat. Mochi, yang duduk bersila di bawah pohon, menatap Lynx dengan pandangan penuh pertimbangan.

“Lynx,” panggil Mochi.

“Ya, Kakek?” Lynx mendekat dan duduk di depan pria tua itu.

“Aku ingin kau mencoba meditasi,” kata Mochi.

“Meditasi?” Lynx tampak ragu. “Aku tidak yakin bisa melakukannya. Setiap kali aku mencoba meditasi dan mengumpulkan energi, tubuhku terasa seperti akan meledak.”

Mochi menepuk pundak Lynx dengan lembut. “Itu karena kau langsung melibatkan energimu. Kali ini, kau hanya akan duduk diam, bernapas perlahan, dan merasakan aliran alam di sekitarmu. Tidak ada yang lebih.”

Lynx menghela napas, lalu mengangguk. “Baiklah, jika hanya merasakan aliran alam, aku sudah mulai terbiasa melakukannya.”

Dengan bimbingan Mochi, Lynx duduk bersila, menutup matanya, dan mulai bernapas dalam-dalam. Lala memperhatikan dari kejauhan, merasa penasaran tapi juga kagum dengan kesabaran kakeknya.

Beberapa saat berlalu, dan tubuh Lynx mulai terasa lebih tenang. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Mochi, yang memiliki kepekaan terhadap energi dan memiliki tenaga dalam, merasakan tubuh Lynx mulai beresonansi dengan alam di sekitarnya.

“Dia memiliki hubungan yang sangat kuat dengan alam,” gumam Mochi pada dirinya sendiri.

Setelah meditasi selesai, Mochi meminta Lynx untuk mencoba menghimpun energi, tetapi dengan perlahan dan hati-hati.

